BANGLI | patrolipost.com – Adanya rencana Pemkab Badung dan Pemkot Denpasar membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Landih, Bangli, memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat Bangli. Ada yang menyatakan setuju, namun ada juga yang menolak.
Terkait sikap pro-kontra yang terjadi di masyarakat, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam dunia demokrasi.
Menurut Bupati asal Desa Sulahan, Kecamatan Susut ini setiap kebijakan publik berpotensi menimbulkan pro dan kontra. Apalagi bersentuhan dengan persoalan sampah. Dia menganggap baik dukungan maupun penolakan yang muncul merupakan bentuk dari kepedulian dan kecintaan masyarakat terhadap Bangli.
Bupati dari PDI-P ini mengungkapkan bahwa rencana Badung dan Denpasar membuang sampah ke Bangli belum final. Pasalnya sejauh ini belum ada penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS). Namun demikian saat ini pembahasan PKS masih berada di tingkat antar-organisasi perangkat daerah (OPD) di tiga kabupaten/kota.
“Badung dan Denpasar juga masih berupaya menyelesaikan persoalan sampahnya secara mandiri, karena butuh biaya tinggi jika dibawa ke Bangli,” tegasnya, Selasa (30/12/2025).
Namun demikian jika dilihat dari regulasi TPA Landih memungkinkan menjadi lokasi pembuangan sampah dari daerah lain, namun harus didahului adanya kerjasama tertulis.
Pihaknya merespons positif rencana kedua daerah tersebut karena menilai persoalan sampah bukan hanya menjadi masalah Denpasar dan Badung, melainkan menyangkut Bali secara keseluruhan. Sebab, persoalan sampah yang tidak tertangani secara profesional akan berdampak pada sektor lainnya seperti sektor pariwisata.
“Jika seandainya sektor pariwisata terpuruk siapa yang rugi? seluruh Bali rugi. Itu lah mindset kami,” ungkap Sedana Arta yang juga ketua DPC PDI-P Bangli ini.
Sedana Arta melihat kondisi TPA Landih yang masih membutuhkan perhatian serius, khususnya dari sisi sarana dan prasarana. Ia mencontohkan keterbatasan alat berat yang saat ini dioperasikan di TPA. Jika volume sampah bertambah imbas dari kiriman dari Badung dan Denpasar, alat yang ada tentu akan kewalahan.
“Kalau banyak sampah kan minimal ada 5 buldozer, 5 eskavator, 5 loader. Tentu ini sebagai catatan yang akan kita minta ke mereka. Sarana pendukung untuk pengolahan sampah bukan kita beli dari APBD,” tegasnya.
“Bangli di satu sisi bisa jadi solusi sementara, tapi di sisi lain, kami dibantu dengan peralatan seperti itu,” sebutnya.
Bupati Sedana Arta kembali menekankan jika pengiriman sampah belum final.
“Masih dilakukan pembahasan secara teknis. Kalau sudah dilakukan penandatangan PKS di baru final. Ini kan belum ada penandatanganan PKS,” tutupnya. (750)





