SEMARAPURA | patrolipost.com – Sampai Selasa 7 Juli 2026 teka teki siapa pembunuh Nyoman Cita alias Mang Colik masih gelap gulita, belum ada titik terang siapa pelakunya. Sejak jenazah Mang Colik ditemukan pada 2 Juli lalu Sat Reskrim Polres Klungkung masih bekerja ekstra keras membuka tabir misteri pembunuhan ini.
Sebab, sesuai hasil pemeriksaan foreksik RSUP Sanglah kematian Mang Colik jelas karena adanya tikaman fatal di beberapa bagian tubuh almarhum. Namun perkembangan terakhir pihak Polres Klungkung melalui Sat Reskrim Polres Klungkung telah menemukan pakaian dalam dan sandal kanan yang diduga milik korban di sekitar lokasi penemuan jasad, Minggu (5/7/2026) sore lalu.
Menurut Kasi Humas Polres Klungkung Iptu I Dewa Komang Alit Purnawibawa, hasil penyelidikan terkini Polres Klungkung berhasil menemukan sandal sebelah kanan serta celana dalam yang diduga milik korban.
“Saat ini barang temuan tersebut masih dilakukan pemeriksaan di lab forensik. Selanjutnya Sat Reskrim masih melanjutkan proses penyelidikan mencari barang milik korban yang dilaporkan hilang,” tandas Alit Purnawibawa.
Sebelumnya, polisi juga menemukan handpone dan sandal sebelah kiri milik korban di Sungai Pesona Lepang, tempat pertama kali korban dilaporkan hilang. Temuan itu sesaat setelah jenazah korban ditemukan pada Kamis (2/7/2026) lalu.
“Penyidik belum berani menyimpulkan apakah korban kemungkinan dibunuh saat mandi. Atau bisa saja korban dibunuh dulu lalu pakaiannya dihanyutkan,” kata Alit Purnawibawa.
Meski demikian, Alit menegaskan hasil pemeriksaan forensik, korban meninggal akibat 4 luka tusukan yaitu di punggung kiri 1 tusukan, punggung kanan 2 tusukan dan di perut depan 1 tusukan.
Sementara itu keluarga korban Nyoman Cita alias Nyoman Colik menggelar ritual mecaru dan ngulapin di aliran Tukad Bubuh, Senin (6/7/2026) lalu. Ritual dipimpin Jro Mangku Pura Prajapati.
Prosesi diawali dengan upacara mecaru untuk memulihkan keseimbangan alam, dilanjutkan ngulapin dan nebusin.
“Kami mengadakan prosesi nebusin, ngulapin, dan mecaru agar rohnya bisa tenang. Kami juga mendoakan agar pelakunya segera terungkap,” kata adik kandung korban, Ketut Buda Ana.
Menurutnya, ritual mecaru tidak berhenti sampai di Tukad Bubuh. Menjelang upacara ngaben, keluarga masih akan menggelar tiga kali ritual mecaru di setra, perempatan agung, dan pertigaan desa sesuai petunjuk tokoh adat karena korban meninggal dalam kondisi salah pati.
Informasi di lapangan, lokasi tempat korban biasa mandi bukan merupakan pemandian umum. Tempat itu berada di tepi jalan menuju Perumahan Pesona Lepang, namun tidak terlihat dari jalan karena tertutup semak dan rumpun bambu. Kedalaman air di lokasi tersebut juga hanya sekitar di atas lutut orang dewasa.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Reno Chandra Wibowo, mengatakan penyidik masih terus mengumpulkan alat bukti. Selain menyisir alur Sungai Bubuh, polisi juga menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTv) di sejumlah titik.
“Tim kami sudah menelusuri CCTV di sekitar Bypass Ida Bagus Mantra dan sekitarnya. Kami mencari petunjuk,” kata Reno.
Polisi juga mendalami informasi hilangnya perhiasan emas milik korban yang diperkirakan memiliki berat sekitar 70 gram. Untuk itu, tim penyidik turut melakukan penelusuran ke sejumlah pedagang maupun toko jual-beli emas. (roni)
