MANGUPURA | patrolipost.com – Wakil Gubernur Bali sekaligus Dewan Pengawas DPD Pusat Baladika Bali I Nyoman Giri Prasta, menyampaikan pesan kuat dan tajam terkait peran organisasi kemasyarakatan di Bali. Menurutnya, momentum Peringatan HUT ke-22 Baladika Bali harus dimaknai sebagai momentum konsolidasi dan evaluasi menyeluruh.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ini momentum untuk memperkuat organisasi, mengevaluasi program, isu strategis yang ada di masyarakat, dan memastikan kita benar-benar hadir untuk masyarakat,” tegas Giri Prasta, Selasa (5/5/2026) lalu.
Ia menekankan, organisasi harus mampu menjadi penjaga stabilitas sosial dengan menghadirkan rasa aman, nyaman, dan kepedulian di tengah masyarakat.
“Yang dikenang masyarakat bukan apa yang kita ucapkan, tetapi apa yang kita lakukan,” ujarnya, menegaskan pentingnya aksi nyata dibanding wacana.
Wagub Giri Prasta juga menyoroti pentingnya kekompakan sebagai fondasi utama perjuangan organisasi.
“Kalau kita tidak bersatu, setengah perjuangan kita sudah hilang. Namun, kalau kita kompak bersatu, setengah perjuangan kita sudah berhasil. Tidak ada yang tidak mungkin,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong organisasi untuk terus membina kader-kader terbaik yang mampu menembus posisi strategis, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Saya melihat banyak sumber daya manusia yang luar biasa di sini. Tinggal bagaimana kita membina, menjaga integritas, dan tetap loyal pada organisasi,” kata Giri Prasta.
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya pembinaan karakter untuk menghapus stigma negatif terhadap organisasi kemasyarakatan.
“Kita harus buktikan bahwa kita adalah kekuatan sosial yang bermartabat, bukan sebaliknya,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Badung sekaligus Ketua Umum DPD Baladika Bali, I Bagus Alit Sucipta menegaskan, usia 22 tahun adalah fase kematangan organisasi yang harus diisi dengan kontribusi nyata.
“Ini momentum memperkuat soliditas dan memastikan kita benar-benar hadir memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Bagus Alit.
Ketua Umum DPP Aliansi Bali Angunggah Shanti, AA Ketut Suma Widana yang menekankan pentingnya menjaga citra organisasi melalui tindakan nyata.
“Jawab stigma dengan aksi. Tunjukkan bahwa kita hadir untuk masyarakat melalui kegiatan sosial yang berkelanjutan, dan tetap bersatu dalam mencapai tujuan, yang tentunya harus diiringi doa,” kata Ketut Suma Widana.
Dewan Pembina Baladika Bali I Nyoman Gde Sudiantara, turut mengingatkan akar sejarah organisasi yang dibangun dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat sejak awal.
“Nilai dasar ini harus tetap kita jaga dan perkuat untuk menghadapi tantangan ke depan,” ujarnya.
Ketua Panitia HUT Komang Merta Jiwa, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa peringatan ini merupakan ruang refleksi sekaligus penguatan jati diri organisasi.
“Perayaan ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk menata langkah ke depan, mempererat kebersamaan, serta memperkuat nilai-nilai perjuangan,” kata Komang Merta.
Menurutnya, organisasi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
Komang Merta Jiwa mengingatkan tantangan yang dihadapi Bali saat ini, mulai dari dinamika global hingga ancaman terhadap nilai-nilai adat dan budaya lokal.
“Kita harus menjadi garda terdepan dalam menjaga dan merawat nilai-nilai tersebut. Organisasi ini harus menjadi kekuatan yang mampu menjawab tantangan zaman,” tegasnya.
Dalam perayaan HUT ke-22 itu juga dilakukan penyerahan bantuan kemanusiaan kepada penyandang disabilitas menjadi momen emosional yang menggambarkan sisi humanis organisasi.
Tak hanya itu, Baladika Bali juga menyerahkan bantuan lingkungan berupa 35 tong komposter dan 2.000 kantong komposter kepada warga Kelurahan Sading sebagai bentuk dukungan terhadap pengelolaan sampah berbasis sumber.
Di sektor kemanusiaan, kerja sama dengan PMI Bali menghasilkan 345 kantong darah, menjadikan kegiatan donor darah ini sebagai salah satu yang terbesar di Bali.
Rangkaian kegiatan yang sarat nilai sosial dan kebersamaan ini menjadi refleksi bahwa Baladika Bali tidak hanya merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga menegaskan komitmen untuk terus hadir sebagai bagian dari solusi di tengah masyarakat.
Di usia ke-22, organisasi ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada jumlah anggota, tetapi pada soliditas, nilai, dan kontribusi nyata yang diberikan. (pp05)
