JAKARTA | patrolipost.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mendapati adanya pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang curang dengan memotong bujet program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Rp 10.000 per porsi menjadi Rp 6.500 per porsi. Selain itu, pemilik yayasan yang menaungi sejumlah dapur MBG di Jawa Timur tersebut juga mengaku sebagai cucu menteri.
Temuan ini bermula saat dua kepala SPPG di bawah naungan Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara mengejar Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang sampai ke Blitar, Jawa Timur, pada akhir pekan lalu. Kedua orang itu adalah Rizal Zulfikar Fikri selaku Kepala SPPG Ponorogo Kauman Somorto dan Syafi’i Misbachul Mufid selaku Kepala SPPG Ponorogo Jambon Krebet.
Rizal dan Syafi’i meminta perlindungan kepada Nanik. Sebab, selama berbulan-bulan, mereka bersama pengawas gizi, dan pengawas keuangan selalu ditekan dan diintimidasi yayasan yang menaungi mereka. Bahkan, sang pemilik yayasan juga mengaku bahwa dirinya adalah cucu menteri.
“Yayasan yang membawahi kedua SPPG itu disinyalir juga telah merekayasa pembelian bahan pangan. Dari bujet Rp 10.000 per porsi untuk pembelian bahan pangan yang ditetapkan BGN, mereka hanya membelanjakan Rp 6.500 per porsi,” tulis BGN, dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).
Akibat pemotongan bujet porsi ini, para kepala SPPG kerap nombok, alias menutup kekurangan dari kantong pribadi, supaya menu MBG tetap terlihat pantas.
Ketika curhat kepada Nanik, dua kepala SPPG yang ditekan ini sampai menangis. “Mau enggak mau, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat,” ucap Syafi’i, sambil terisak.
Nanik berpendapat, perbuatan pemilik yayasan yang menaungi SPPG itu sungguh tidak manusiawi dan tidak pantas. Apalagi, para kepala SPPG ini terus ditekan dan ditakut-takuti, bahwa mereka akan didatangi polisi atau pengacara jika tidak mengikuti kemauan yayasan yang memotong bujet MBG. Selain itu, semua relawan dan sekolah penerima manfaat pun dimintai tanda tangan untuk mengusir kedua kepala SPPG itu.
Nanik yang marah ketika mendengar keluhan mereka langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro untuk menginspeksi kedua dapur MBG itu secara langsung.
Sementara Nanik juga memerintahkan Brigjen Dony untuk langsung menutup dapur milik orang yang mengaku sebagai cucu menteri itu.
“Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada kepala SPPG, pengawas gizi, dan pengawas keuangan,” tukas Nanik.
Selanjutnya, Nanik menelepon menteri yang dicatut oleh pemilik Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara. Menteri yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa beliau tidak memiliki cucu yang memiliki kedua dapur MBG tersebut. Tidak hanya itu, Si Menteri juga mempersilakan BGN langsung menutup dapur MBG, jika ada orang yang mengaku sebagai keluarganya.
“Tutup saja dapurnya,” seru sang menteri, sebagaimana ditirukan Nanik.
Tidak Layak
Ketika tim BGN tiba di dua dapur MBG yang dimaksud, mereka mendapati kondisi dapur yang kotor, bau, jorok, dan belum memenuhi ketentuan petunjuk teknis maupun SOP SPPG. Misalnya, lantai dapur yang mengelupas, dinding-dinding dapur kotor, keropos dan berjamur, ruang pemorsian yang tidak layak dan tidak ber-AC, tidak ada ruang istirahat, serta loker yang seadanya dan tidak terpisah.
Lebih parahnya lagi, pemilik yayasan yang mengaku sebagai cucu menteri itu juga tidak mau mengeluarkan uang untuk perbaikan dapur. Walhasil, kedua kepala SPPG yang mengadu kepada Nanik ini terpaksa merogoh kocek mereka sendiri.
“Kami menggunakan uang pribadi untuk pembuatan IPAL ini,” kata Rizal.
Menurut Brigjen Dony, aroma busuk tercium dari kedua dapur itu. Dony memastikan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mereka sangat tidak memadai. “Dapur-dapur ini sangat tidak layak untuk dilanjutkan,” ujar Dony. (ant/kpc/zar)






