NUSA PENIDA | patrolipost.com – Seven Dreams A Pramana Experience dengan bangga merayakan ulang tahun pertamanya, menandai satu tahun penuh pertumbuhan, pengalaman berkesan bagi para tamu, serta hospitality yang berakar pada filosofi “Deliver Genuine Hospitality To The World.”
“Dalam merayakan pencapaian ini, kami diingatkan bahwa esensi sejati dari hospitality tidak hanya sebatas pelayanan, tetapi juga tentang menciptakan koneksi yang bermakna dengan manusia, budaya, dan lingkungan,” ujar I Wayan Suarsa, CEO Pramana Experience.
“Melalui properti kami, kami berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berkesan, tetapi juga bertanggung jawab dan memberikan dampak positif.” tambahnya.
Perayaan dimulai pada malam 1 Mei 2026, dengan menyambut para tamu melalui pengalaman bersantap yang dikurasi secara khusus, pertunjukan tari Panyembrama, serta hiburan live. Acara ini dihadiri I Wayan Suarsa (CEO Pramana Experience), I Nengah Widiasa (Corporate GM Cluster Island Pramana Experience), I Komang Widana (Owner Representative Seven Dreams A Pramana Experience), dan I Wayan Garutma Utama (Resort Manager Seven Dreams A Pramana Experience), bersama keluarga besar Seven Dreams A Pramana Experience serta para tamu undangan, mencerminkan apresiasi bersama atas perjalanan yang telah dilalui sekaligus visi ke depan untuk hospitality yang lebih bermakna.
Penyelamatan dan Pelepasliaran Penyu
Sebagai bagian dari rangkaian perayaan, Seven Dreams A Pramana Experience melanjutkan momentum ini melalui inisiatif keberlanjutan pada 2 Mei 2026, berupa kegiatan pelepasliaran penyu yang dilanjutkan dengan penanaman terumbu karang, melibatkan manajemen, staf, serta tamu yang menginap.
Selama periode Februari hingga April 2026, sebanyak 7 ekor penyu laut berhasil diselamatkan dan direhabilitasi sebelum akhirnya dilepasliarkan. Jenis penyu yang diselamatkan meliputi: Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Hijau (Chelonia mydas).
Penyu-penyu tersebut ditemukan dalam berbagai kondisi rentan, antara lain: Luka fisik dan deformasi yang diduga akibat sampah laut atau benturan dengan perahu, kondisi lemah dan disorientasi akibat kelelahan atau terjerat, penyakit dan infeksi yang memerlukan pemantauan serta pemulihan
Proses penyelamatan dilakukan melalui kolaborasi dengan nelayan lokal, operator kapal, dan pemandu snorkeling, yang menemukan penyu-penyu tersebut dalam kondisi membutuhkan bantuan saat beraktivitas di laut.
Setelah pelepasliaran penyu, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman terumbu karang, di mana tamu, staf, dan manajemen turut berpartisipasi secara langsung dalam proses penanaman. Sementara itu, instalasi karang di bawah laut dilakukan dengan pendampingan dan dukungan dari para ahli konservasi laut, guna memastikan metode yang tepat serta keberlanjutan ekosistem terumbu karang dalam jangka panjang.
Kegiatan ini menjadi momen yang tidak hanya simbolis, tetapi juga edukatif, mengajak para tamu untuk berpartisipasi dalam aksi nyata pelestarian lingkungan sekaligus membangun koneksi yang lebih dalam dengan laut. (roni)
