Buku Berjudul Kembang Karya Oka Rusmini Angkat Trauma Perempuan Penyintas Peristiwa 1965

oka rusmini1
Penulis Buku Kembang Oka Rusmini. (ist)

DENPASAR | patrolipost.com – Penulis yang juga sebagai tokoh sastra Indonesia Oka Rusmini merilis buku terbarunya berjudul Kembang. Buku yang ditebitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2026 ini merupakan pertanda pendewasaan bagi Oka yang selama empat dekade konsisten membongkar konstruksi adat dan patriarki.

Dalam buku terbarunya ini Oka menyuarakan isu perempuan dan penyintas peristiwa sejarah 1965.

Editor senior Gramedia Pustaka Utama Mirna Yulistianti menilai karya ini sebagai sebuah pencapaian yang sangat arsitektural.

“Oka memperlakukan teks layaknya bangunan presisi yang dirancang dengan tata ruang bahasa efisien, fondasi mitologi-budaya yang kukuh, serta struktur elemen yang saling mengunci secara fungsional,” kata Yulistiani, di Denpasar, Selasa (21/7/2026).

Proses penulisan buku berjudul Kembang dipicu oleh perjumpaan emosional Oka dengan film dokumenter You and I pada 2020 karya Fanny Chotimah. Film tersebut merekam kehidupan masa tua dua perempuan Kusdalini dan Kaminah yang merupakan penyintas 1965.

Selain itu, penulisan buku ini juga diperkaya oleh dokumenter A Secret Love, buku foto Pemenang Kehidupan, serta berbagai riset akademis.

Dalam karya ini, Oka mengangkat pendekatan microhistory untuk memotret trauma berlapis yang dihadapi perempuan penyintas, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga beban stigma sosial yang memaksa mereka bertahan hidup dalam ruang domestik.

Menurut Oka, membicarakan sejarah 1965 berarti membangkitkan kembali ingatan tentang penghancuran martabat. Diam menjadi perisai agar publik tidak kembali menguliti kehidupan yang susah payah mereka bangun.

“Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya menggugat keheningan negara atas trauma sejarah,” kata Oka.

Secara estetik, Oka mengusung gaya Mistisisme-Domestik dengan membenturkan simbol keindahan seperti bunga dengan realitas keras kehidupan sehari-hari. Penulis juga menerapkan teknik tipografi huruf kecil (all-lowercase) secara menyeluruh untuk memberi ruang bagi aliran kesadaran yang lebih terbuka dan demokratis.

Melalui Kembang, Oka Rusmini merebut kembali kedaulatan memori yang disenyapkan. Oka membuktikan, sastra adalah instrumen keadilan. Di saat pengadilan hukum formal kerap menemui jalan buntu, buku ini menawarkan rekonsiliasi kultural, ritual penyucian sejarah yang mengembalikan martabat penyintas 1965 di masa senjanya. (pp06)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *