YERUSALEM | patrolipost.com – Israel memanfaatkan warga Gaza yang marah kepada Hamas untuk terus menggaungkan protes anti-Hamas. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan bahwa kelompok teror yang dilucuti kekuasaannya adalah “satu-satunya cara untuk menghentikan perang.”
Melansir worldisraelnews, Katz meminta warga Gaza untuk memaksa Hamas keluar dari Jalur Gaza. Katz juga memperingatkan bahwa perang akan meningkat sampai Hamas digulingkan dan para sandera yang masih ditahan di Gaza dibebaskan.
“IDF akan segera beroperasi dengan paksa di wilayah tambahan di Gaza dan Anda akan diminta untuk mengungsi dan kehilangan lebih banyak wilayah. Rencananya sudah siap dan disetujui,” kata Katz dalam sebuah pesan di X, yang ditujukan kepada penduduk Jalur Gaza.
“Belajarlah dari penduduk Beit Lahiya: Tuntut Hamas untuk meninggalkan Gaza dan segera membebaskan semua sandera Israel. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan perang,” lanjutnya.
Katz menekankan bahwa Hamas, khususnya pemimpinnya yang terbunuh Yahya Sinwar, bertanggung jawab atas penderitaan warga Gaza akibat perang setelah serangan teror 7 Oktober. Sinwar digantikan oleh saudaranya, Mohammed yang menolak menyerahkan kendali Hamas atas wilayah tersebut.
“Sinwar pertama menghancurkan Gaza, dan Sinwar kedua siap membakar separuh Gaza dengan tangannya sendiri hanya untuk mencoba dan mempertahankan kekuasaannya yang korup bersama sesama pembunuh dan pemerkosa Hamas,” tambah Katz.
“Hamas membahayakan nyawa Anda, menyebabkan Anda kehilangan rumah dan semakin banyak wilayah yang akan diintegrasikan ke dalam formasi pertahanan Israel,” tulisnya memprovokasi.
Beberapa anggota pemerintahan Netanyahu telah mengancam bahwa untuk setiap sandera yang masih ditawan Hamas, IDF akan menguasai beberapa kilometer wilayah Gaza, yang akan ditambahkan ke zona penyangga yang terus meluas di bawah kendali Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, warga Gaza turun ke jalan untuk memprotes Hamas dan menuntut diakhirinya perang dengan Israel.
Hamas telah lama menggunakan kekuatan mematikan untuk membungkam para pengkritiknya di daerah kantong pantai tersebut, termasuk membunuh jurnalis pembangkang dan mereka yang mengkritik aturan kelompok teror tersebut di media sosial. (pp04)