SEMARAPURA | patrolipost.com – Program Bima Juara atau Beli Mahal Jual Murah yang digagas pada masa kepemimpinan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta sejak 2016 terus berlanjut saat kepemimpinan Bupati Klungkung I Made Satria. Program ini masih memberikan manfaat bagi petani dan koperasi di Kabupaten Klungkung.
Salah satu yang merasakan manfaat program tersebut adalah KUD Panca Satya yang berlokasi di Dawan Klod. Melalui program tersebut, KUD mendapatkan kepastian pasar untuk menyerap hasil pertanian sekaligus memasok kebutuhan beras di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klungkung.
Pelaksanaan Bima Juara diawali dengan terbitnya Surat Keputusan Bupati Klungkung Nomor 111/14/H2O/2016 tentang pembelian beras lokal petani oleh PNS dan guru di lingkungan Pemkab Klungkung, tertanggal 12 Maret 2016. Program tersebut kemudian berkembang sebagai inovasi dengan pola pemerintah memfasilitasi KUD membeli gabah petani dengan harga lebih tinggi, kemudian menjual beras lokal dengan harga lebih murah dari harga pasar.
Program tersebut bahkan berhasil masuk Top 40 Inovasi Pelayanan Publik tingkat nasional pada 2018. Pemkab Klungkung menyebut Bima Juara merupakan inovasi yang diluncurkan di bawah kepemimpinan Bupati I Nyoman Suwirta.
Hingga saat ini, keberadaan pasar yang difasilitasi melalui program tersebut masih dirasakan KUD Panca Satya. Salah satu suplier KUD Panca Satya, I Wayan Dharmayasa (35), mengatakan pihaknya mampu menyuplai sekitar 25 ton beras setiap bulan.
Dengan harga beras medium sekitar Rp14.500 per kilogram, nilai pasokan tersebut mencapai sekitar Rp362,5 juta per bulan.
“Program ini sangat membantu KUD karena pasarnya sudah difasilitasi. Ada kebutuhan yang pasti setiap bulan sehingga kami juga lebih mudah menyerap gabah dari petani,” ujar Dharmayasa.
Menurutnya, kerja sama dengan Pemkab Klungkung memberikan ruang bagi KUD untuk membeli gabah petani dengan harga yang kompetitif. Saat ini harga gabah yang dibeli KUD berada di kisaran Rp7.900 per kilogram.
Harga tersebut, kata Dharmayasa, diupayakan mampu bersaing dengan harga gabah di Pulau Jawa. Dengan demikian, petani di Bali tidak harus menjual hasil panennya keluar daerah hanya karena mendapatkan harga yang lebih tinggi.
“Kalau harga di Bali bisa bersaing dengan Jawa, harapannya gabah tidak sampai mengalir ke Jawa. Kita ingin hasil pertanian dan perputaran ekonominya tetap di Bali,” katanya.
Selain memasok kebutuhan beras bagi pegawai di lingkungan Pemkab Klungkung, KUD Panca Satya juga melayani pembelian dari masyarakat dan pedagang. Permintaan dari warung atau pedagang dapat mencapai sekitar 500 kilogram per bulan.
Untuk harga jual, KUD Panca Satya saat ini memasarkan beras premium sekitar Rp15.500 per kilogram, sedangkan beras medium sekitar Rp14.500 per kilogram.
Dharmayasa menilai keberadaan Bima Juara tidak hanya memberikan manfaat bagi KUD, tetapi juga membuka dampak ekonomi yang lebih luas. KUD dapat memberdayakan masyarakat yang bekerja di dalamnya, sementara petani mendapatkan kemudahan dalam memasarkan gabah hasil panen.
“Petani merasa terbantu karena ada yang menyerap gabahnya. KUD juga bisa memberdayakan tenaga kerja. Jadi manfaatnya tidak hanya untuk KUD, tetapi juga petani dan masyarakat,” ujarnya.
Kepastian pasar juga dinilai penting ketika petani memasuki masa panen raya. Dengan adanya penyerapan gabah oleh KUD, petani memiliki alternatif pemasaran sehingga tidak harus menjual hasil panen dengan harga rendah ketika pasokan melimpah.
Untuk memenuhi kebutuhan pasokan, KUD Panca Satya memprioritaskan gabah yang berasal dari petani Klungkung. Namun, apabila pasokan dari Klungkung belum mencukupi kebutuhan, KUD mengambil gabah dari petani di wilayah Bangli.
Dari sisi produksi pertanian, kondisi cuaca juga menjadi salah satu tantangan yang harus diperhatikan. Penurunan curah hujan dan kondisi kemarau dapat memengaruhi produksi padi. Dalam kondisi tersebut, pengaturan pola tanam dan pengelolaan air melalui subak menjadi penting agar produksi tetap berjalan.
Menurut Dharmayasa, petani juga terus mengembangkan produksi dan penggunaan berbagai bibit padi. Saat ini, varietas padi Mawar dinilai menjadi salah satu yang memberikan hasil cukup baik.
Ia berharap keberadaan pasar yang jelas dapat terus dipertahankan sehingga petani semakin terdorong untuk mengembangkan usaha pertaniannya. “Kalau pasar jelas dan harga gabah bagus, petani akan lebih maju. Ini juga membuka lapangan pekerjaan dan membuat hasil pertanian tetap berputar di daerah,” katanya.
Bima Juara sendiri merupakan inovasi dengan pola hulu-hilir. Pemerintah memfasilitasi KUD untuk membeli gabah petani dengan harga yang lebih tinggi, sementara beras lokal kemudian dijual kepada konsumen dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar. Konsep tersebut dirancang untuk memberikan manfaat kepada tiga pihak sekaligus, yakni petani mendapatkan harga gabah yang lebih baik, KUD memperoleh volume usaha, dan masyarakat mendapatkan beras dengan harga yang terjangkau.
Keberlanjutan program tersebut juga terlihat dari keterlibatan KUD Panca Satya Dawan dan KUD Jaya Werdhi Takmung. Pada Mei 2022, Pemkab Klungkung melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kedua KUD tersebut dalam rangka memantapkan pelaksanaan Bima Juara. (roni)





