BANGLI | patrolipost.com – Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cempaga-Cempaga, Bangli turut menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar berbagai kegiatan. SPPG yang selama ini, identik hanya berurusan dengan dapur dan pemenuhan gizi siswa ini, menggelar rangkaian perlombaan edukatif yang menyasar sekitar ribuan siswa penerima manfaat program MBG, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK di wilayah sasaran.
Selain itu guna mempererat rasa persaudaraan, moment hari kemerdekaan diisi juga dengan berbagai lomba yang melibatkan para karyawan SPPG.
Pengelola SPPG Cempaga I Gusti Agung Sutha Baskara, mengatakan bahwa keterlibatan pihak mitra dalam program nasional ini seyogianya tidak dipandang dari sudut pandang bisnis semata.
“Bagi kami, ini bukan bisnis yang profit-oriented, melainkan social-oriented. Sebagai mitra, kami merasa memiliki tanggung jawab sosial (social responsibility) untuk menyupport tumbuh kembang anak-anak, khususnya di dunia pendidikan,” ujar I Gusti Agung Sutha Baskara, Selasa (18/8/2026).
Adapun perlombaan yang digelar, para siswa jenjang SMP dan SMA (seperti SMAN 2 Bangli dan SMKN 4 Bangli) ditantang untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah.
“Melalui lomba ini, para siswa diminta secara langsung mengevaluasi pelaksanaan program MBG serta menguraikan manfaat nyata program tersebut bagi perkembangan akademik maupun pribadi mereka ke depan,” kata pria asal Banjar Gunaksa, Cempaga ini.
Sementara itu, untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), digelar Lomba Poster Slogan menginterpretasikan semangat pemenuhan gizi dan nilai-nilai kebangsaan. Guna menjaga independensi dan kualitas penilaian, proses penjurian melibatkan tim pengajar profesional dari jenjang SMA serta guru seni rupa dari SMKN 4 Bangli. Seluruh pendanaan kegiatan perlombaan ini pun murni disisihkan dari insentif pengelolaan yang diterima oleh pihak SPPG.
Sutha Baskara berharap melalui momentum peringatan kemerdekaan ini, nalar kebangsaan dan semangat menuju Indonesia Emas 2045 dapat kembali dipupuk secara konsisten.
“Hari ini kalau kita bicara soal kebangsaan, anak-anak kadang sudah bingung. Disuruh menyanyi lagu kebangsaan saja banyak yang tidak bisa. Lewat momentum 17 Agustus ini, tema-tema yang dilombakan sengaja dipaketkan dengan nilai kebangsaan,” ungkapnya.
Tak berhenti pada perlombaan, edukasi karakter ini juga diimplementasikan SPPG Cempaga-Cempaga di meja makan sekolah. Di tengah gempuran tren makanan siap saji atau mi instan yang digandrungi anak muda, SPPG Cempaga-Cempaga secara rutin menyajikan menu tradisional Nusantara—seperti gulai, ayam semat-mentang, jipang urap, hingga tempe bacem—minimal tiga kali dalam seminggu melalui budaya megibung (makan bersama).
“Makanan itu adalah salah satu pondasi utama untuk menjaga budaya bangsa. Kalau tidak kita kenalkan dan pertahankan dari sekarang, anak-anak akan asing dengan budayanya sendiri,” ungkapnya.
Dalam hal ini, diakui meskipun pelaksanaan program MBG tak lepas dari berbagai dinamika dan kritik publik, SPPG Cempaga memilih tetap optimistis dan fokus pada esensi utamanya. yakni, memastikan gizi anak terpenuhi sekaligus membentuk karakter generasi penerus yang berdaya saing dan berbudaya. (750)






