DENPASAR | patrolipost.com – Kapolres Badung AKBP Joseph Edward Purba mengatakan, pihaknya terus bergerak untuk mendalami kasus pembunuhan bule Belanda, Rene Pouw yang tewas dikeroyok dua pria tak dikenal di seputaran Villa Amira Nomor 1, Banjar Anyar Kelod Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Senin (23/3) pukul 22.50 Wita lalu.
“Berdasarkan keterangan saksi di lokasi yang juga adalah pacar korban, jumlah pelaku sebanyak 2 orang seperti keterangan di awal. Namun soal detail identitas pelaku hingga saat ini masih dalam proses pendalaman,” ujar Joseph di Mapolres Badung, Rabu (25/3/2026) sore.
Selain keterangan saksi yang melihat langsung di lokasi yakni pacar korban, polisi kini sudah memeriksa saksi lainnya termasuk pihak vila tempat korban menginap.
“Hingga saat ini polisi sudah memeriksa 5 saksi dan akan terus didalami sehingga kemungkinan saksi akan bertambah,” ujarnya.
Selain 5 saksi yang sudah diperiksa, penyidik akan memeriksa seluruh rekaman CCTv di seluruh jalur jalan yang diduga dilewati oleh pelaku baik sebelum kejadian maupun pasca kejadian. Rekaman CCTv itu akan ditunjukkan atau dikonfirmasi ke saksi yang ada di lokasi saat peristiwa itu terjadi. Polisi juga akan memeriksa para saksi dan orang-orang terdekat dengan korban. Hal ini dilakukan untuk mengetahui siapa saja yang selama ini berhubungan dengan korban dan apa saja peran dan tugas mereka.
Saat ditanya tentang dugaan pelaku adalah orang asing yang sudah melarikan diri ke luar negeri, Kapolres Badung menegaskan, belum ada kepastian terkait hal itu. Namun ia mengaku, jika pihaknya sudah berkoordinasi dengan Imigrasi terutama menyangkut identitas korban. Disebutkan, korban sejak tahun 2024 sudah berada di Bali. Korban sudah sering pulang pergi ke Bali karena memiliki bisnis di Bali. Namun tidak dijelaskan apa saja bisnisnya. Informasi ini sangat penting karena diduga kuat para pelaku bisa saja menjadi pesaing bisnis dengan korban atau pun ada unsur dendam lainnya.
Mantan Kapolres Karangasem ini juga menyinggung soal pelaku di Bali yang sering menggunakan jaket Ojol untuk mengelabui polisi. Sudah banyak kasus kejahatan orang asing di Bali yang menggunakan jaket Ojol.
“Menurut pengamatan kami, jaket Ojol itu sangat mudah didapat atau dibeli karena banyak sekali dijual. Sehingga para pelaku kejahatan banyak menggunakan jaket Ojol untuk menghilangkan jejak kejahatan,” ujarnya.
Sebelumnya, kasus viral video asusila yang juga pelakunya adalah orang asing, juga menggunakan jaket Ojol. Hal ini sama dengan pelaku pembunuhan terhadap turis Belanda, dua pelaku menggunakan jaket Ojol.
Seperti diberitakan sebelumnya, korban tewas dianiaya dua orang pelaku. Peristiwa berdarah ini bermula korban dan pacarnya berinisial PI (30) keluar jalan – jalan pada pukul 22.00 Wita. Sampai di tempat kejadian perkara (TKP), sang pacar melihat ada dua orang berboncengan dengan menggunakan motor matic berwarna hitam. Kedua orang itu memakai jaket hitam diduga ojek online, helm warna hitam masker warna biru dan yang dibonceng memakai baju kaos orange tidak memakai helm.
Kedua pelaku sempat sampai di ujung gang namun langsung berbalik arah. Melihat hal itu, korban langsung berhenti dan menyuruh kekasihnya untuk mengunci vilanya. Namun tiba-tiba saja kedua pengendara itu langsung menyerang RP menggunakan pisau. Sementara PI juga dikejar oleh salah satu pelaku yang menggunakan jaket ojol sehingga PI berlari ke depan Villa Amira Nomor 4 yang saat itu dalam keadaan gelap. Pelaku menusuk korban menggunakan pisau. Saksi sempat melihat penyerang itu memasuki vila korban, tetapi tidak lama keluar lagi.
Lantaran tidak menemukan PI, pelaku melanjutkan untuk menghujani tubuh korban dengan tusukan senjata tajam. Setelah melancarkan aksinya, saksi yang mengintip dari kegelapan melihat kedua pelaku melarikan diri. Setelah itu PI berani mendekati pacarnya yang sudah tergeletak bersimbah darah sembari berteriak meminta pertolongan. Dia juga menghubungi pemilik vila inisial NMA (39) untuk memanggilkan ambulance. (007)






