BANGLI | patrolipost.com – Tragedi tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo 8 di laut Jawa saat berlayar menuju Banjarmasin (Kalimantan Selatan) pada Minggu (13/9) dini hari meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Dari ratusan penumpang yang belum ditemukan terdapat dua bersaudara adik-kakak yakni I Putu Pramana Yoga (28) dan I Kadek Sayoga Putra asal Dusun Cempunggung, Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku Bangli.
Menurut orangtua kedua bersaudara tersebut, I Nengah Tirta kedua putranya berangkat dari rumah (Cempunggung) dengan mengendarai mobil truk pada Kamis (10/9/2026) . Truk yang dikemudikan membawa peralatan upacara dan genteng yang nantinya akan dijual di Banjarmasin.
“Sudah sejak dua tahun terakhir kedua putra kami membawa barang ke Banjarmasin,” ujar Nengah Tirta saat dihubungi, Senin (14/9/2026).
Dengan suara terbata-bata Nengah Tirta mengaku kontak terakhir dengan kedua buah hatinya pada Kamis sekira pukul 12.00 Wita saat perjalanan menuju Surabaya.
“Hari Kamis berangkat dari rumah dan hari Jumat sudah sampai Surabaya. Selanjutnya naik kapal menuju Banjarmasin,” sebut Nengah Tirta.
Pria paro baya ini mengaku pada Minggu 13/9) sekira pukul 09.00 Wita mendapat informasi dari otoritas Pelabuhan di Banjarmasin jika kapal yang ditumpangi kedua anaknya tenggelam dan sampai saat ini kedua anaknya hilang kontak.
“Mendengar kabar ini saya terkejut dan khawatir memikirkan nasib kedua saya. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami hanya menunggu info dari petugas terkait. Mudah-mudahan anak saya bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” harap Nengah Tirta.
Di tempat terpisah, Kepala Dusun Cepunggung I Ketut Adnyana mengakui ada warganya yang ikut menumpang kapal motor Virgo 8 yang diberitakan tenggelam di laut Jawa dan hingga kini tidak bisa dihubungi lagi dari pihak keluarga.
“Beberapa hari lalu pihak keluarga sempat meminta berkas KTP dan KK. Keduanya masih saudara adik- kakak,” ujarnya.
Ia mengatakan dua bersaudara ini memang sudah sering pergi ke Kalimantan membawa barang dengan menggunakan kendaraan truk. Barang-barang yang dibawa dari Bali biasanya dijual kepada warga trans Bali di Kalimantan.
”Setiap bulan pasti keduanya berangkat ke Kalimantan. Mudah-mudahan keduanya bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” kata Ketut Adnyana. (750)





